Senin, 25 Juli 2011

Menjadi goBlog setelah Trauma

Banyak orang menyebut dirinya mengalami trauma. Setelah mengalami kecelakaan jadi tidak berani lagi menyetir karena trauma. Atau putus cinta, lalu trauma dan tidak berani menjalin hubungan serius lagi. Sebenarnya apa arti trauma?
Secara sederhana trauma bermakna luka atau kekagetan (shock). Dalam artian psikologis trauma mengacu pada pengalaman-pengalaman emosional yang mengejutkan, menyakitkan dan membawa dampak serius, tidak jarang untuk jangka waktu lama.

Kematian anggota keluarga secara mendadak, dipecat dari kerja, mengalami kecelakaan, mengalami perkosaan, terbakarnya rumah tinggal, atau peristiwa ledakan bom di JW Marriott, misalnya, semua ini dapat menjadi contoh kejadian-kejadian yang sama sekali tak terduga, tak terbayangkan akan terjadi, sangat mengagetkan dan menyakitkan.

Mengapa reaksi orang berbeda-beda menghadapi trauma? Ada pembalap yang setelah mengalami kecelakaan langsung terjun lagi berlomba begitu sembuh. Tetapi banyak juga yang kemudian jadi demikian takut: jangankan akan menyetir lagi, melihat mobil berjalan cepat saja dada berdebar-debar, bahkan ada yang jadi sulit tidur.

Trauma adalah kejadian tak disangka-sangka, seringkali bukan saja mengejutkan tetapi juga sangat mengancam rasa aman. Karenanya, menyusul suatu kejadian traumatik, misalnya mengalami kecelakaan, rumah terbakar, atau jatuh dari jembatan, wajar bila untuk sementara waktu kita kemudian mengalami masalah-masalah penyesuaian diri. Trauma mengguncang keseimbangan tubuh dan jiwa, mendesakkan diri dalam ingatan, menyebabkan peristiwa-peristiwa lain yang terjadi sehari-hari, pengalaman-pengalaman bahagia dan menyenangkan, kejadian-kejadian biasa yang sesungguhnya mengisi kehidupan kita selama puluhan tahun, terpinggirkan dan seolah jadi tak penting. Yang menguasai ingatan dan pikiran, untuk sementara waktu, adalah peristiwa traumatis itu. Peristiwa itu jadi seperti adegan film yang tanpa kita kehendaki seenaknya berputar-putar sendiri kapan ia mau.

Ketika melewati daerah dimana kita pernah mengalami perampokan, atau melihat gedung-gedung berkaca yang mengingatkan kita akan berhamburannya kaca-kaca yang pecah akibat ledakan bom, peristiwa yang pernah terjadi tiba-tiba seperti terulang kembali: tubuh dan jiwa kita kemudian bereaksi. Dada tiba-tiba berdegup sangat kencang, seluruh tubuh lemas, keringat dingin membasahi, kita bahkan bisa sesak nafas dan kemudian pingsan. Secara psikologis kita dapat mengalami serangan panik, tak mampu berpikir, dilanda kecemasan kuat, dan lain sebagainya.

Jadi, hal itu adalah respon wajar menyusul kejadian yang sangat tidak wajar. Adalah normal menghayati hal-hal di atas segera, dan beberapa lama setelah kejadian. Siapapun orangnya, sehebat apapun dia, biasanya akan menunjukkan respon-respon demikian dalam intensitas tertentu, setelah kejadian traumatis.

Tetapi mengapa dampaknya berbeda-beda pada tiap orang? Mengapa sepertinya ada juga yang tidak terpengaruh, misalnya dalam contoh pembalap yang tidak kapok membalap?
Perbedaannya mungkin berawal dari kenyataan, bahwa yang traumatis bagi satu orang dan orang lain berbeda. Untuk orang yang selalu dilindungi dan dimanja keluarganya, suatu bentakan dapat menjadi peristiwa sangat mengejutkan dan menakutkan. Untuk yang lain, perkelahian menjadi kegiatan sehari-hari, bahkan dapat menjadi hiburan di tengah kebosanan. Bagi seorang pembalap kegiatan berlomba balap mungkin telah demikian menyatu dalam jiwa, menjadi aktivitas yang sentral dan memaknai hidupnya. Karena membalap adalah pilihan hidupnya, kecelakaan saat membalap telah diantisipasi dan tidak perlu menjadi suatu peristiwa traumatis.

Meski demikian, bila kejadian memang dihayati sebagai traumatis, dalam artian tak disangka, menyakitkan dan mengguncang, dalam jangka waktu tertentu biasanya ada respon-respon umum yang muncul, yakni sebagian atau beberapa hal-hal berikut :

* Ingatan atau bayangan mencengkeram tentang trauma, atau merasa seperti kejadian terjadi kembali ("Flashbacks")
* Respon-respon fisik seperti dada berdebar, munculnya keringat dingin, lemas tubuh atau sesak nafas saat teringat atau berada dalam situasi yang mengingatkan pada kejadian
* Kewaspadaan berlebih, kebutuhan besar untuk menjaga dan melindungi diri
* Mudah terbangkitkan ingatannya bila ada stimulus atau rangsang yang berasosiasi dengan trauma (lokasi, kemiripan fisik atau suasana, suara dan bau, dan sebagainya).

Pada beberapa orang dapat terjadi:

* Mimpi buruk, gangguan tidur
* Gangguan makan: mual dan muntah, kesulitan makan, atau justru kebutuhan sangat meningkat untuk mengkonsumsi makanan
* Ketakutan, merasa kembali berada dalam bahaya
* Kesulitan mengendalikan emosi atau perasaan, misalnya menjadi sensitif, cepat marah, tidak sabar
* Kesulitan untuk berkonsentrasi atau berpikir jernih.

Barangkali intensitasnya saja yang berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain: ada yang menjadi waspada dan takut sangat berlebihan, sehingga bahkan keluar rumah pun tidak bersedia, ada pula yang meski cemas tetap dapat menjalani kehidupannya dengan baik. Ada yang mampu cepat keluar dari trauma, ada pula yang memerlukan waktu lebih lama.

Kapan suatu respon dianggap tidak lagi wajar? Kapan kita harus mulai waspada bahwa peristiwa traumatis telah berdampak buruk dan mengganggu kesehatan mental?
Biasanya, respon-respon yang disebutkan di atas akan berkurang intensitasnya sejalan dengan berlalunya waktu. Bila setelah jangka waktu lama misalnya sebulan atau lebih individu tetap menunjukkan kewaspadaan berlebih, dicekam oleh mimpi-mimpi buruk, kehilangan kendali, apalagi menunjukkan perubahan perilaku (misal: menjadi sangat penakut, menghindar dari semua hal yang mengingatkannya pada kejadian), individu ini mungkin perlu meminta bantuan profesional khusus untuk memfasilitasi pemulihan.

Bagaimana menanggulangi serangan panik, seperti dada yang tiba-tiba berdebar-debar kencang, rasa takut dan mudah sekali terkejut? Hidup menjadi sangat terganggu karenanya. Kita sulit berkonsentrasi, dan jadi terhambat dalam melakukan banyak hal.
Memang benar. Ketakutan dapat melumpuhkan kita. Kita jadi tidak berani kemana-mana, pulang kesorean sudah menyebabkan kita panik, selalu butuh orang lain untuk menemani dan sebagainya. Bahkan kalau tiba-tiba teringat kejadian kita jadi tak mampu berkonsentrasi, cuma dapat diam lemas tanpa berbuat apa-apa.


Yang mungkin perlu diingat adalah manusia memerlukan waktu untuk memulihkan diri. Bila kita mudah panik beberapa lama setelah kejadian itu adalah wajar. Kita perlu bersabar saja dengan diri sendiri. Bagaimanapun, bila kepanikan dan rasa takut demikian mengganggu, kita dapat melakukan hal-hal sederhana seperti melakukan olah nafas atau menjalankan meditasi sederhana.

Degupan jantung yang sangat kencang perlu diseimbangkan dengan olah nafas. Yang dapat dilakukan adalah bernafas dengan menarik dan menghembuskan nafas secara teratur, dalam, pelahan, dalam suasana tenang. Lakukan berulang-ulang dengan menyediakan waktu yang cukup, sampai Anda merasa keadaan tubuh menjadi lebih tenang. Meditasi dengan berbagai cara juga dapat dilakukan. Anda perlu mencari waktu, tempat dan suasana yang tenang untuk melakukannya.

Mengapa ada orang yang sepertinya jadi "berubah?" Mereka jadi cepat marah, enggan bergaul, bahkan keluarganya sendiri pun jadi mengalami kesulitan dalam berhubungan dengan mereka.
Selain berdampak fisik, trauma juga berdampak psikologis. Kejadian traumatik dapat mengubah cara pandang dan pemahaman manusia mengenai dunia. Seorang yang mulanya percaya diri, demikian terguncang setelah orangtua mendadak meninggal. Tiba-tiba ia disadarkan bahwa ada hal-hal yang tak mampu dikendalikannya, bahwa selama ini ia terlalu sibuk dengan aktivitasnya sendiri dan kurang memberikan perhatian pada orangtua. Lalu muncul kecemasan dan rasa bersalah, juga perasaan kosong, karena tiba-tiba ia sadar bahwa ia sendiri. Atau orang yang tiba-tiba mengalami PHK. Peristiwa tersebut demikian mengguncang keyakinan dan harga dirinya. Ia merasa tak lagi berharga, merasa orang pasti membicarakan dan menertawakannya, dan lain sebagainya. Contoh lain adalah perempuan yang mengalami kekerasan seksual. Ia mungkin masih dihantui oleh tuntutan bahwa perempuan harus bersih, suci, "perawan", sehingga setelah perkosaan melihat dirinya demikian buruk, kotor dan tidak pantas dicintai. Bila individu tak mampu mengolah kebingungan dan perasaan-perasaan negatifnya, mungkin saja ia kemudian berkembang menjadi individu yang sensitif, mudah marah, menarik diri dan sebagainya.

Bagaimana agar manusia dapat bangkit setelah peristiwa traumatis? Apakah kita dapat hidup normal setelah mengalami peristiwa sangat menyakitkan?
Ada beberapa hal yang tampaknya berperan. Pertama, masalah-masalah kehidupan adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Dalam perjalanan hidupnya, manusia pasti akan mengalami berbagai hambatan untuk dapat bertumbuh: gagal, ditolak atau disakiti, memperoleh nilai buruk, berbeda pendapat dengan orang lain, tidak disukai, menderita sakit serius, kalah dalam kompetisi dan lain sebagainya. Kita perlu mempersiapkan diri kita untuk itu. Kita juga perlu mempersiapkan generasi yang lebih muda, atau orang-orang yang ada dalam tanggungjawab kita, misalnya anak, murid, pegawai, anggota keluarga, untuk mampu menghadapi hal tersebut. Orangtua yang saking takutnya anak akan jatuh lalu tidak membolehkan anaknya belajar naik sepeda, misalnya, sesungguhnya sedang membentuk anaknya menjadi manusia yang kecil hati, mudah menyerah, tidak tangguh. Kita justru perlu menyediakan kesempatan bagi diri sendiri dan orang-orang lain yang berada dalam tanggungjawab kita, untuk dapat berkembang menjadi orang yang tidak cepat menyerah, yang tangguh, yang mampu bangkit setelah peristiwa menyakitkan. Bila kita tidak diberi kesempatan untuk gagal, menghadapi hambatan, atau mengalami kesakitan, bagaimana kita dapat terbentuk menjadi manusia yang kuat dan tegar?

Yang kedua adalah masalah dukungan sosial. Ketika orang menghadapi masalah sangat berat, dan tidak ada pihak-pihak yang dapat ditemuinya untuk memberikan dukungan, masalah menjadi terasa makin berat. Bayangkan seseorang yang mengalami PHK dan keluarganya kemudian justru mempersalahkannya. Atau seorang perempuan yang mengalami perkosaan dan kemudian ditinggalkan oleh pacarnya, atau dipersalahkan oleh orangtua karena dianggap telah membawa aib bagi keluarga. Perkosaan itu sendiri sudah sangat menyakitkan dan mengguncang, dibutuhkan waktu cukup lama untuk dapat keluar dari trauma perkosaan, bahkan dengan adanya dukungan dari orang-orang dekat. Jadi bila tidak ada orang yang peduli, bahkan orang lain menyudutkan dan menghina, tentunya perjuangan untuk memulihkan diri menjadi makin sulit.

Yang ketiga dan juga sangat penting adalah masalah pengembangan makna hidup. Kejadian traumatis dapat menjadi pencetus untuk mengkait-kaitkan semua peristiwa yang terjadi dalam hidup, untuk kemudian mengembangkan pemaknaan. Orang yang sulit keluar dari trauma umumnya mengembangkan makna hidup yang negatif setelah kejadian: "Hidupku telah hancur. Tidak ada lagi yang dapat kulakukan. Orang-orang memandangku dengan aneh. Aku manusia sial. Bahkan Tuhan tidak menyayangi aku." Dan lain sebagainya.

Orang-orang yang dapat pulih dari trauma umumnya adalah mereka yang dapat mengembangkan pemaknaan positif atas hidupnya: peristiwa yang berlalu digunakan sebagai pembelajaran dan pengingat. Ia yang selama ini menghabiskan waktu untuk bekerja mungkin merasa diingatkan untuk hidup lebih seimbang, untuk memberikan perhatian pada keluarga. Ia yang selama ini tak memikirkan masa depan anak-anaknya jadi sadar bahwa ia perlu mengambil langkah untuk berjaga-jaga. Ia terdorong untuk hidup lebih hemat, membuat asuransi pendidikan untuk anak, atau menabung. Ia yang sebelumnya sibuk dengan diri sendiri mulai menyadari pentingnya berhubungan sosial dengan orang lain. Mereka membuat penyimpulan positif atas kehidupan mereka. "Memang hal itu sangat menyakitkan. Tetapi aku tidak ingin diperangkap oleh bayangan buruk. Aku anggap saja kejadian itu sebagai pengingat: agar aku lebih berhati-hati, agar aku hidup lebih seimbang. Agar aku peduli pada orang-orang lain yang mengalami hal serupa." Dan seterusnya dan seterusnya. Peristiwa menyakitkan tidak ditolak, tidak dilihat sebagai sesuatu yang harus dibenci atau ditakuti. Peristiwa menyakitkan diterima sebagai bagian dari hidup, sebagai hal yang memperkaya dan menumbuhkan.

Bagaimana dengan orang yang hidupnya sungguh-sungguh berubah setelah kejadian, misalnya jatuh miskin, mengalami kecacatan dan sebagainya? Bukankah sangat sulit bagi mereka untuk dapat bangkit kembali?
Memang benar. Untuk mereka yang situasi hidupnya berubah signifikan setelah kejadian traumatis, misalnya harus mengalami kecacatan, atau hidup sangat pas-pasan padahal sebelumnya bergelimang kemewahan, diperlukan upaya yang lebih besar, dan dukungan sosial kuat dari orang-orang terdekat. Barangkali dibutuhkan bukan sekadar dorongan semangat, tetapi juga dukungan konkrit. Bila ia kehilangan pekerjaannya, apakah kita dapat ikut mencarikan jalan atau menyediakan alternatif-alternatif untuk mengatasi kesulitan ekonomi? Situasi yang sangat berubah juga dapat mengguncang konsep diri. Diperlukan dukungan personal, sosial maupun profesional agar individu tetap dapat mengembangkan gambaran yang positif akan diri dan kehidupannya.

Bagaimanapun, manusia memiliki resiliensi atau ketangguhan untuk menghadapi kesulitan, dan mengembangkan pemaknaan positif atas kehidupan. Ada contoh-contoh pengalaman hidup nyata yang menunjukkan bahwa peristiwa traumatis yang demikian mengerikan dapat dilewati, diterima sebagai bagian hidup yang tidak menghalangi langkah-langkah konstruktif membangun masa depan (Kristi Poerwandari).

0 komentar:

Posting Komentar