Lemah kaki menumpu dada yang begitu sesak, terlintas yang lalu ketika sepi datang, bagai sebuah rol film yang di putar ketika pertunjukan theater tiba, dunia menyaksikan kisahku yang berliku. Kisah-kisah lalu kembali ke permukaan menghasilkan dilema menyesakkan hati dan tak pernah henti, seolah rotasi hanya ilusi. Aku masih di sini menginjak tanah yang sama, mendengar celoteh yang sama, menatap mentari yang sama dan menghirup udara yang sama. Betapa menjemukannya hariku bila terus begini,berjalan ke depan tetapi nyatanya ke belakang. Di pertemukan kembali ingin semu lalu, yang telah pergi tapi tetap di sini menguatkan juga merapuhkan, kenapa tak pernah hilang bayangmu dari kelopak mataku.

Aku semakin larut, hati semakin surut, tak berani ku kini bermain dengan keping-keping hati, terlalu sesak. Diam ku pun tak menjawab segala gundah. Tawa tak sepenuhnya menghilangkan duka, tersenyumpun begitu berat, karena lidah telah berkarat, janji tinggal janji yang hanya lalu lalang menghiasi kata agar terkesan lebih manis. Ketika harapan terbawa angin Februari ku genggam itu, tapi ternyata hujan terlalu deras membasahi mata dan hatiku, dan bisa di pastikan semua lepas meninggalkan puing-puing jingga yang terhantam gempuran presepsi yang tak pernah sehati. Ini ujunng dari jalan yang ku lalui, tapi semua belum berakhir, yang lalu mencuat kembali ke permukaan menggoyangkan idealisme diri. Dan ternyata penghujung bukan akhir dari semuanya, masih ada jalan setapak yang harus kulalui untuk merekontruksi diri kembali. Aku lelah bahkan terlalu lelah untuk memulai kembali dari awal. Dan aku pun tak tahu mesti dari mana aku memulainya, semangat masih tak cukup untuk mensugesti diri, malam pun menjadi teman yang setia memberi solusi yang tak pasti, karena hanya mengharap sebuah keajaiban yang di tawarkan.
Mengapa semuanya tak pasti, berawal A berakhir Z, atau pun sebaliknya, membuatku semakin berfikir bahwa hidup hanya sebuah deretan abjad dan angka saja, yang selalu menuntut Akreditasi diri untuk selalu bernilai A dan 100, oh . . . . terlalu dramatis, tidakkah ada yang melihat diri dari seberapa kuat seseorang melawan kemelut hati, ataukah semua sama hanya melihat dari apa ujung dari sebuah perjalanan. Ironis memang, hidup hanya di cerminkan dari hiasan apa saja yang ada di pundak. aku mengerti tapi tidak memahami, banyak ungkapan yang ingin terlontar, tapi serasa percuma memaki dunia yang tak betelinga.
0 komentar:
Posting Komentar